Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- بَخِلُوا بِهِ (bakhilū bihī): Mereka menahan dan tidak mau mengeluarkan hak Allah dari harta yang telah diberikan kepada mereka.
- وَتَوَلَّوْا (watawallau): Mereka berpaling dari ketaatan kepada Allah.
- مُعْرِضُونَ (mu'riḍūn): Mereka adalah orang-orang yang memang sudah menjadi kebiasaannya untuk berpaling dan menjauh dari kebenaran.
Tafsir Ayat:
Setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa mereka dan melimpahkan karunia-Nya berupa kekayaan dan kecukupan, apa yang mereka lakukan? Sungguh sangat disayangkan, mereka justru bersikap kikir dan bakhil. Mereka menahan harta tersebut untuk dirinya sendiri dan tidak mau menunaikan hak Allah di dalamnya, seperti bersedekah dan berinfak di jalan kebaikan. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka ucapkan kepada Allah, padahal sebelumnya mereka bersungguh-sungguh memohon agar diberi kekayaan supaya bisa menjadi orang-orang yang dermawan.
Lebih parah lagi, mereka tidak hanya bakhil, tetapi juga berpaling dari ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perintah-perintah-Nya. Mereka menjauh dengan sikap sombong dan enggan menerima kebenaran. Inilah gambaran nyata dari orang-orang munafik yang hanya ingat kepada Allah ketika dalam kesulitan, namun melupakan-Nya ketika telah diberikan kenikmatan.
Sungguh, sifat bakhil dan ingkar janji adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia akan menghancurkan keimanan seseorang dan menjauhkannya dari rahmat Allah. Padahal Allah tidak membutuhkan harta mereka sedikit pun, tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan pahala dan ampunan dari Allah.
Renungan dan Pelajaran:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Betapa banyak di antara kita yang berjanji kepada Allah ketika dalam kesusahan, "Ya Rabb, jika Engkau berikan aku kekayaan, aku akan bersedekah, aku akan berinfak, aku akan membantu orang-orang yang membutuhkan." Namun ketika Allah benar-benar mengabulkan permohonan tersebut dan melimpahkan rezeki yang melimpah, justru kita lupa dan menjadi kikir.
Marilah kita renungkan sejenak: bukankah semua harta yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah? Bukankah di dalam harta kita terdapat hak-hak orang lain yang harus kita tunaikan? Allah tidak membutuhkan sedekah kita, tetapi kitalah yang membutuhkan pahala-Nya. Allah tidak akan bertambah mulia karena sedekah kita, tetapi kitalah yang akan bertambah dekat kepada-Nya.
Janganlah kita menjadi seperti mereka yang disebutkan dalam ayat ini, yang ketika diberikan nikmat justru berpaling dan enggan bersyukur. Jadilah hamba yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit. Karena sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang ketika diberi nikmat semakin bersyukur dan semakin dermawan, bukan semakin kikir dan lupa diri.
Semoga Allah melindungi kita dari sifat bakhil dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dan gemar berbagi. Aamiin.
📜 Ayat 74-78 — At-Taubah
Terjemah — At-Taubah 76
Surat At-Taubah Ayat 76 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka…Surat Ayat 76/129 — At-Taubah التوبة (Madaniyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: At-Taubah Dengarkan, At-Taubah Terjemah, At-Taubah mp3, At-Taubah pdf. Ayat 74–78. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu







