Terjemah — Tafsir
Makna Kata-Kata:
- إِنْ di sini bermakna *nafi* (meniadakan), artinya "tidak ada" atau "bukanlah".
- هَٰذَا (ini) merujuk kepada apa yang diserukan oleh Nabi Hud `alaihissalam` berupa ajaran tauhid, peringatan akan azab, dan ajakan untuk bertobat.
- خُلُقُ berasal dari kata *khuluq* yang berarti kebiasaan, adat istiadat, agama, atau perilaku yang telah mendarah daging.
- الْأَوَّلِينَ (orang-orang terdahulu) maksudnya nenek moyang mereka dari kalangan kaum 'Ad yang telah lampau.
Tafsir Ayat:
Kaum 'Ad yang durhaka itu berkata dengan nada meremehkan dan menolak kebenaran: "Tidaklah ajaran yang engkau bawa ini, wahai Hud, melainkan hanyalah kebiasaan dan adat istiadat nenek moyang kami dahulu. Bukan sesuatu yang baru, bukan pula wahyu dari langit. Kami hanya meneruskan tradisi mereka, dan kami tidak akan diazab atas apa yang kami perbuat, sebagaimana yang engkau ancamkan kepada kami."
Mereka menganggap bahwa kehidupan ini hanyalah siklus alam yang berputar—kadang senang, kadang susah—tanpa ada campur tangan Allah. Mereka menolak hakikat bahwa nikmat dan musibah adalah ujian dari Allah, dan bahwa hari pembalasan itu pasti datang. Dengan demikian, mereka menjadikan tradisi nenek moyang sebagai dalih untuk menolak kebenaran, padahal tradisi yang bertentangan dengan wahyu hanyalah kebatilan belaka.
Pesan Dakwah:
Saudaraku yang dirahmati Allah, ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: janganlah sekali-kali kita menjadikan adat istiadat, kebiasaan turun-temurun, atau perkataan "nenek moyang kami" sebagai penghalang untuk menerima kebenaran. Islam datang bukan untuk menghapus kebaikan tradisi, tetapi untuk memurnikan keyakinan dan meluruskan ibadah hanya kepada Allah semata.
Betapa banyak di antara kita yang enggan meninggalkan kemungkaran hanya karena alasan "sudah biasa" atau "sudah menjadi budaya". Padahal, kebenaran tidak diukur oleh lamanya waktu atau banyaknya pengikut, melainkan oleh kesesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Mari kita jadikan ayat ini sebagai cambuk untuk selalu terbuka menerima nasihat, dan berani meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan kemaksiatan, walau itu sudah mengakar dalam kehidupan kita. Karena kebahagiaan sejati bukan terletak pada mengikuti jejak nenek moyang yang sesat, melainkan pada mengikuti jejak para nabi dan rasul yang lurus.
📜 Ayat 135-139 — Asy-Syu'ara
Terjemah — Asy-Syu'ara 137
Surat Asy-Syu'ara Ayat 137 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.Surat Ayat 137/227 — Asy-Syu'ara الشعراء (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Asy-Syu'ara Dengarkan, Asy-Syu'ara Terjemah, Asy-Syu'ara mp3, Asy-Syu'ara pdf. Ayat 135–139. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








