Terjemah — Tafsir
Makna Kata:
- آبَاؤُكُمُ (aabaa'ukum): nenek moyang kalian, para leluhur.
- الْأَقْدَمُونَ (al-aqdamuun): yang terdahulu, yang lebih dahulu ada dari generasi kalian.
Tafsir:
Dalam ayat yang mulia ini, Nabi Ibrahim 'alaihissalam melanjutkan dialognya yang penuh hikmah dengan kaumnya. Beliau berkata: "Apakah kalian benar-benar telah memperhatikan dengan mata hati dan merenungkan dengan akal sehat, apa yang selama ini kalian sembah? Kalian dan nenek moyang kalian yang terdahulu telah menyembah berhala-berhala yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi manfaat, dan tidak pula mampu menolak mudarat."
Nabi Ibrahim 'alaihissalam dengan sangat bijak mengajak kaumnya untuk berpikir jernih dan merenung sejenak. Beliau tidak langsung menghina sesembahan mereka, tetapi mengajak mereka untuk melihat realitas dengan mata kepala dan mata hati. Berhala-berhala yang mereka sembah itu hanyalah batu-batu mati yang diukir oleh tangan mereka sendiri. Ia tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk mengusir lalat yang hinggap di tubuhnya sekalipun.
Sungguh suatu pertanyaan yang sangat dalam maknanya! Pertanyaan ini seakan-akan menggugah nurani setiap manusia: "Apakah pantas kita menyembah sesuatu yang tidak mampu menolong dirinya sendiri, apalagi menolong kita?" Renungkanlah wahai saudaraku, betapa kasih sayang Allah kepada kita begitu besar. Allah menciptakan kita dalam sebaik-baik bentuk, memberi kita akal untuk berpikir, dan mengutus para rasul untuk membimbing kita ke jalan yang lurus. Maka betapa rugi dan hinanya jika kita meninggalkan ibadah kepada Allah Yang Maha Kuasa, lalu tunduk kepada benda-benda mati yang tidak berdaya.
Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut atau lamanya tradisi. Nenek moyang yang menyembah berhala bukanlah alasan untuk terus berada dalam kesesatan. Justru kita diperintahkan untuk mengikuti kebenaran di mana pun ia berada, meskipun harus berbeda dengan kebiasaan nenek moyang. Sebagaimana Nabi Ibrahim 'alaihissalam dengan tegas memisahkan diri dari sesembahan kaumnya dan hanya menghambakan diri kepada Rabb semesta alam.
Marilah kita jadikan kisah ini sebagai pelajaran berharga. Setiap kali kita membaca ayat ini, ingatlah bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang memberi kita rezeki, menyembuhkan penyakit kita, dan akan membangkitkan kita kembali di hari akhir. Maka sudah sepantasnya kita hanya menyembah kepada-Nya, mencintai-Nya, dan mengikuti petunjuk-Nya dengan penuh keikhlasan dan ketundukan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berada di atas kebenaran, sebagaimana kekasih-Nya, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Aamiin.
📜 Ayat 74-78 — Asy-Syu'ara
Terjemah — Asy-Syu'ara 76
Surat Asy-Syu'ara Ayat 76 - Baca, Dengarkan, Terjemah, Bahasa Indonesia : kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,Surat Ayat 76/227 — Asy-Syu'ara الشعراء (Makkiyah). Baca Dengarkan Terjemah (Bahasa Indonesia). Dengarkan: Asy-Syu'ara Dengarkan, Asy-Syu'ara Terjemah, Asy-Syu'ara mp3, Asy-Syu'ara pdf. Ayat 74–78. Arti Bahasa Indonesia: Melayu.
Al-Quran
Tuesday, August 18, 2026
Jangan lupakan kami dalam doa baikmu








